BAB 1 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada
Kalau sekarang gue cerita tentang Uprealband, orang mungkin langsung membayangkan band, lagu, panggung, rekaman, dan segala urusan musiknya.
Padahal, sebelum semua itu ada, gue tinggal di lingkungan Perumnas Depok, khususnya Jalan Rinjani.
Belum ada nama Uprealband. Belum ada album Evolution. Belum ada urusan mengarsipkan perjalanan band untuk diceritakan kembali seperti sekarang.
Waktu itu, gue menjalani kegiatan sehari-hari sebagai anak muda, mulai dari kegiatan lingkungan sampai pertemanan yang kemudian membawa gue semakin dekat dengan musik.
1997: Jadi Ketua Karang Taruna
Pada 1997, gue aktif di Karang Taruna lingkungan dan dipercaya menjadi ketua Karang Taruna RT. 002, dan saat itu penamaan RT di lingkungannya diberi nama-nama bunga, misalnya RT. 01, bernama abzad pertama yaitu A sehingga disebut RT Anggrek, dan karena RT gue itu RT. 002, maka disebut Bougenville, nah karang taruna ini pun disebut Karang Taruna Bougenville, gue masih inget banget pernah nyuruh anggota karang taruna gue tuk bikin stempel resmi kala itu, ke tukang bikin stempel cuma bikin tulisan karang taruna lalu ada gambar gunungnya karena nama jalan RT gue itu jalan Rinjani (nama salah satu gunung), ya jaman itu stempel masih dibikin dari kayak bantalan sandal bekas itu lho ... ya jaman itu gue gak begitu tau kalo ternyata Karang Taruna itu punya logo resmi hahaha .. ya tau sendiri jaman itu keterbukaan informasi belum seluas sekarang, apa gue yg emang kurang gaul hahaha .. pokoknya yg penting jadi dulu .. hahahaha ..
Fasilitas terbatas dan uang kas nggak banyak. Jadi, gue berusaha mencari cara supaya kegiatan tetap berjalan.
gue lalu inget masa kecil gue, ketika puasa tiba, gue sering ke rumah sepupu gue yg sering langganan majalan anak, namanya majalah bobo, dan gue sering minjem beberapa bukunya, lalu gue sewain selama bulan ramadhan berlangsung, ya akhirnya gue bisa punya uang jajan lebih kala itu, dan tanpa modal hahahahah ....
nah akhirnya masalah kas Karang Taruna ini, gue pake cara itu hehehe .. selain uang kas, ya salah satunya ya menyewakan komik.
Buat yang belum tahu, komik adalah bacaan yang ceritanya disampaikan melalui rangkaian gambar dan percakapan. Komik yang gue maksud waktu itu berupa buku cetak yang dibaca halaman demi halaman.
Gue bertanya kepada teman-teman di lingkungan, siapa yang punya komik. Gue mengajak mereka mengumpulkan komik untuk disewakan. Setelah terkumpul, gue meminta izin Pak RT untuk menggunakan pos ronda sebagai tempat penyewaan.
Setelah Pak RT menyetujui penggunaan pos ronda, pekerjaan ternyata belum selesai. Gue masih harus menyiapkan tempat untuk menyimpan komik-komik tersebut.
Gue ingat, waktu itu gue membeli beberapa batang kayu untuk dibuat menjadi rak buku atau ambalan dinding. Kayunya gue gergaji sendiri secara manual, kemudian gue paku menggunakan palu sampai menjadi rak.
Jadi, sebelum komik bisa disewakan, gue harus menyiapkan tempatnya lebih dulu. Kayu dipotong sendiri, lalu bagian-bagiannya disatukan menggunakan paku dan palu.
Nggak kayak zaman sekarang, tinggal pesan rak lewat online shoop,, bayar, terus tunggu barang datang. Hahaha.
lalu gue bertanya sama anggota lain terkait namanya apa ada usul nama toko bukunya ?
seinget gue Novi salah satu anggota yang sebaya sama gue dan juga banyak memiliki komik menjawab "tomodachi aja" gue tanya apa itu artinya, katanya "teman baik" .. akhirnya nama itu di pakai.
Setelah tempatnya siap, komik-komik itu disewakan. Uangnya dikumpulkan untuk membiayai kegiatan Karang Taruna.
Selain itu, gue juga menghidupkan kembali majalah dinding yang sempat nggak aktif.
Buat yang belum mengenal majalah dinding atau mading, ini adalah papan yang ditempeli tulisan, gambar, informasi, atau karya untuk dibaca orang yang lewat. Isinya bisa dilihat langsung di tempat papan itu dipasang.
Kegiatan tujuh belasan juga menjadi bagian dari kesibukan kami di lingkungan.
Ada satu kebiasaan yang masih gue ingat. Saat perlombaan tujuh belasan, gue berusaha memberikan bingkisan, khususnya kepada anak-anak yang nggak menang.
Masa yang bawa pulang hadiah cuma pemenangnya?
Anggap saja seperti pesta ulang tahun anak-anak. Walaupun nggak semua mendapat hadiah utama, setidaknya semua kebagian sesuatu.
Dari yang gue ingat, setelah seluruh lomba selesai, nggak ada lagi anak-anak yang menangis karena nggak mendapatkan hadiah. Kebiasaan memberikan bingkisan kepada peserta ini juga terus menjadi bagian dari kegiatan lomba tujuh belasan di lingkungan gue sampai sekarang. Syukurlah.
kepercayaan masyarakat terhadap karang taruna ini akhirnya meningkat, beberapa warga kalo diminta patungan untuk kegiatannya cukup responsif, dan pada masa ini, hasil kas Karang Taruna ini malah lebih besar dari Kas Karang Taruna tingkat RW setempat haha .. malah gue dulu gue minta salah satu sosok bapak-bapak yang jago melukis, denger kabar beliau dahulu sering melukis gambar-gambar promosi film bioskop, nah gue sempet memintanya untuk membuat beberapa pigura bergambarkan Pahlawan Nasional Presiden Pertama dan Wakil Presiden Pertama, juga presiden dan wakil presiden kala itu, yg ukurannya lebih dari 150cm .. dan akhirnya sering di pinjam RW jika ada acara malam puncak perayaan tujuh belasan tingkat RW setempat .. hanya hingga hari ini gue gak begitu tahu keberadannya lagi dimana pigura-pigura itu, namun memang kadang-kadang masih di pajang jika ada acara tingkat RT hingga hari ini, dan gue malas mempermasalahkannya kalo itu adalah milik Karang Taruna gue pada masanya, karena sudah sering dipinjam dan berpindah tangan, kalo usil sih, padahal itu bisa aja gue tarik kembali dan gue jual hahahahaha ....
lalu terkait sisa uang kas gue habiskan dengan cara jalan2 seluruh anggota ke Kebun Raya Bogor, dan ada celetukan dari salah satu anggota yang bernama Ikah (cewek) waktu itu "ikutan sama mas bany sih asik, tapi nggak ada duitnya hehehehe", terus gue jawab "lha ini khan gerakan sosial sambil tertawa ..."
Waktu itu gue menjalani kegiatan Karang Taruna sebagaimana adanya. Gue belum memikirkan bahwa pengalaman-pengalaman tersebut kelak akan menjadi bagian dari cerita perjalanan musik gue.
Pertemanan yang Membawa Gue ke Musik
Gue mengenal Aqew, Gerry, dan Ipank sejak masa sekolah setingkat SMU. Sementara itu, pada masa yang gue ceritakan ini, gue sedang sibuk kuliah diploma.
Dari pertemanan itulah gue semakin dekat dengan musik.
Aqew termasuk orang yang mengajari gue bermain gitar. Dari situ gue mulai mengenal chord, yaitu susunan beberapa nada yang dimainkan bersama untuk mengiringi lagu.
Awalnya gue belajar gitar. Belum ada pikiran bahwa suatu hari gue bakal menulis lagu dan merekamnya bersama band.
1998: Festival Band RW dan Lahirnya 5 Watt
Pada 1998, RW setempat mengadakan festival band. Gue tertarik ikut, lalu teringat teman-teman masa sekolah seperti Aqew, Ipank, dan Gerry. Gue juga mengajak Jon, adik kandung gue.
Dari situ, kami mencoba membentuk band bernama 5 Watt.
Band ini terbentuk secara dadakan. Nama 5 Watt pun punya dua penjelasan yang gue ingat.
Menurut Jon, 5 Watt berarti lima orang gawat. Sementara menurut gue, nama itu menggambarkan kelompok musik dadakan yang cahayanya belum terlalu terang, seperti lampu lima watt.
Kami hanya latihan satu kali di Roxy Studio, studio yang paling dekat dari rumah gue.
Untuk persiapan festival, Ipank yang menjadi vokalis sibuk menulis lirik lagu The Cure. Dia menggunakan tape Polytron milik gue untuk memutar kaset, mendengarkan bagian lagu, lalu menulis liriknya.
Buat yang belum pernah menggunakan tape kaset, alat ini memutar suara yang tersimpan pada pita di dalam kaset. Untuk menyalin lirik, Ipank harus memutar lagu, menghentikannya, menulis bagian yang terdengar, lalu memutarnya lagi untuk melanjutkan bagian berikutnya.
Pada masa itu, buku musik yang berisi lagu-lagu populer lengkap dengan chord gitar sudah tersedia. Namun, buku seperti itu masih menjadi barang mewah buat gue untuk dimiliki. Hahaha.
Jadi, kalau mau menyalin lirik dari kaset, ya harus sabar menekan tombol play dan stop. Kalau kelewatan bagian lagu, tinggal putar lagi.
Saat festival berlangsung, gue sendiri memegang bass. Sejujurnya, gue belum begitu paham memainkannya. Selama manggung, permainan bass gue sudah berantakan banget. Hahaha.
Sementara itu, gue sempat melihat Ipank turun dari panggung dan berjoget bersama penonton.
Sebelum turun panggung, gue mendekati stand mic dan berteriak, “Hidup mahasiswa!”
Pada 1998, gerakan demonstrasi mahasiswa sedang memanas. Itulah suasana zaman yang gue ingat ketika menceritakan teriakan tersebut.
Kami nggak memenangkan festival itu.
Pada saat yang sama, Gerry juga manggung bersama bandnya yang bernama H2O. Di band itu, Gerry bermain drum dan Ismanu bermain bass. Nama vokalis H2O sudah nggak gue ingat.
Waktu itu gue juga belum mengenal Ismanu. Gue hanya sempat bertemu dengannya di lokasi sebelum manggung.
Namun, ada satu hasil festival yang tetap membekas. Ismanu mendapatkan penghargaan sebagai Bassist Terbaik.
Setelah festival tersebut, 5 Watt nggak berlanjut lagi.
Bougenville: Gabungan Dua Band
Setelah 5 Watt dan H2O sama-sama nggak berlanjut dengan formasi sebelumnya, Gerry mengusulkan agar kedua kelompok itu dilebur menjadi satu band.
Dari usulan tersebut, terbentuklah Bougenville.
Dalam kelompok ini, Jon bermain keyboard, Gerry bermain drum, Ismanu memainkan bass, sedangkan Aqew menjadi gitaris.
Pada awal latihan, kami kadang membawakan lagu-lagu dari H2O, kadang memainkan lagu band lain. Aqew juga punya lagu dari band lain yang saat itu sudah tidak eksis lagi.
Seiring proses latihan, gue akhirnya mulai membuat lagu sendiri.
Beberapa judul lagu dari masa itu yang masih gue ingat adalah:
“Believe”
“Yang Penting Gaya”
“Pelangi Jingga”
“Kasih/Hampa”
“Kudisini” atau “Ku Menantimu”
Masih ada banyak lagu lainnya, tetapi gue belum ingat semua judulnya.
Nggak semua lagu dari masa itu masih gue ingat secara utuh. Ada bagian yang masih teringat, ada juga melodi yang justru masih diingat oleh teman-teman gue.
Gerry, misalnya, masih mengingat beberapa melodi yang ternyata sudah nggak gue ingat lengkap.
Kadang pencipta lagunya sendiri lupa, sementara orang yang pernah mendengarnya malah masih ingat. Ingatan manusia memang nggak selalu menyimpan semuanya dengan cara yang sama.
Jalan Hidup Mulai Berbeda
Ismanu memilih fokus bekerja. Sementara itu, Aqew perlahan nggak lagi rutin terlibat dalam kegiatan band, meskipun pada masa peralihan ia masih terkadang ikut latihan. Aqew sedang berkonsentrasi mempersiapkan pernikahannya.


