Postingan

Bab 24: Belajar Lagi, Handycam Panasonic, dan Rindu di Panggung Jayabaya

Gambar
  (gambar ilustrasi) Aktivitas rental tetap berjalan seperti biasa. Namun, kalau Uprealband menetapkan jadwal latihan, studio otomatis ditutup sementara atau tidak melayani penyewaan. Wkwkwkwk... Setelah Apoy bergabung, kami mulai kembali latihan dengan formasi lengkap. Apoy mencoba memainkan lagu-lagu Uprealband yang sebelumnya sudah dibuat dalam bentuk EP atau mini album. Gue tanya komentarnya tentang lagu-lagu tersebut. "Iya, lagunya bagus, tapi jadul. Berasa 90-an banget, hahaha..." Ya, gue memaklumi karena usia Apoy memang agak terpaut dari kebanyakan personel lain, meski tidak semuda Derry. Buat gue, justru bagus. Mungkin kehadiran Apoy bisa membuat musik Uprealband terasa lebih fresh . Sementara itu, personel lainnya mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Gerry bahkan sudah menikah dan punya anak. Apoy masih punya waktu lebih untuk mendalami musik dan mengikuti perkembangan musik baru. Akhirnya, gue punya ide membelikan televisi dan DVD player untuk ruang tamu stu...

Bab 23: Selebaran Fotokopian, Band Sekolah, dan Nostalgia Suzuki Tornado

Gambar
  (gambar ilustrasi) Semua akhirnya sudah terpasang. Gue, anak-anak Uprealband, dan crew pun mulai memikirkan bagaimana caranya supaya studio yang susah payah kami bangun itu bisa dikenal orang. Akhirnya, dibuatlah selebaran sederhana hasil fotokopian. Kebetulan, lokasi studio memang dekat dengan beberapa sekolah, mulai dari SMP sampai SMA. Bahkan, salah satunya adalah sekolah tempat gue dan Gerry dulu pernah menuntut ilmu. Selebaran-selebaran itu pun dibagikan saat jam pulang sekolah. Ternyata, cara sederhana itu cukup berhasil. Seingat gue, ada beberapa band anak SMU yang akhirnya datang dan mencoba latihan di UP-REAL Studio. Sesuai rencana yang sudah kami bahas sebelumnya, para penyewa langsung disuguhi air mineral gelas sebelum masuk studio. Setelah masuk, bumper musik yang dibuat Obhik diputar terlebih dahulu. Begitu semua personel siap memainkan alat musiknya, bumper pun dimatikan. Dewa saat itu juga sudah ikut membantu menyiapkan kebutuhan para penyewa. Mulai dari menemani s...

Bab 22: Papan Nama UP-REAL Studio dan Akhirnya Buka Juga!

Gambar
  (gambar ilustrasi) Setelah tarif sewa dan aturan studio beres, ternyata masih ada satu masalah lagi. Lah, studio udah siap dipakai, tapi orang-orang yang lewat mana tahu kalau di situ ada studio latihan? Wkwkwkwk... Akhirnya, anak-anak Uprealband dan crew sepakat bikin papan nama sendiri. Ya iyalah, namanya juga modal pas-pasan. Mau pesan papan nama profesional? Duitnya dari mana, hahaha... Mulailah crew berkreasi. Mereka bikin cetakan huruf dari karton tebal, sementara triplek seadanya dicat putih dulu buat jadi dasarnya. Setelah cat putihnya kering, cetakan huruf ditempelkan. Lalu, bagian dalam huruf itu ditutul-tutul pakai cat sampai terbentuk tulisan “UP-REAL Studio” , lengkap dengan nomor telepon. ( foto papan nama sebenarnya) Dan jadilah papan nama kebanggaan kami! Kalau sekarang dilihat lagi, mungkin orang bakal bilang, "Ya begitu doang?" Tapi buat kami saat itu, rasanya udah kayak punya studio profesional. Maklum, bikin sendiri, pasang sendiri, dan bangga sendiri. H...

Bab 21: Formasi Lengkap, Latihan Rutin, dan Persiapan Membuka Rental Studio

Gambar
(gambar ilustrasi) Akhirnya, formasi Uprealband lengkap juga. Kami mulai latihan bareng, meskipun jadwalnya harus menyesuaikan kesibukan masing-masing. Gue, Gerry, dan Jon sama-sama bekerja. Karena itu, latihan biasanya dilakukan pada hari Sabtu atau Minggu. Kalau ada kebutuhan mendesak, terkadang kami juga latihan pada malam hari di hari kerja. (Foto kiri - kanan : Jon (baju merah) Apoy (memegang gitar akustik) Gerry (memegang bass maison) Gue / Bany (kaos hitam) Kami mulai membahas lagu-lagu lama Uprealband yang sebelumnya gue buat bersama personel era Bougenville. Apoy sendiri belum begitu mengenal lagu-lagu tersebut, jadi kami perlu mulai mengenalkannya satu per satu dalam sesi latihan. Sementara itu, kondisi studio terus kami benahi, mulai dari pengkabelan hingga berbagai kebutuhan lainnya. Sedikit demi sedikit, studio yang awalnya hanya digunakan untuk kebutuhan kami sendiri mulai terasa cukup siap untuk dibuka secara umum sebagai jasa rental studio. Rapat Kecil Menentukan Tarif ...

Bab 20: Ulang Tahun Rini, Derry, dan Kedatangan Apoy

Gambar
  Saat itu, seorang tetangga bernama Rini, adik Wawan, akan berulang tahun. Rumahnya berhadapan langsung dengan rumah Babe. Karena suasana perumnas masih kental dan semua sudah saling mengenal, tercetuslah sebuah ide sederhana. "Kenapa nggak sekalian gelar alat? Sekalian buat bahan praktik, hehe..." kata Obhik. Seperti biasa, anak-anak Uprealband pun mengeluarkan alat-alat mereka dan menggelarnya di depan rumah Rini. Konsepnya santai, dengan lagu-lagu yang dibawakan secara akustik agar tidak terlalu berisik. Bahkan, stik drum pun sempat disiasati menggunakan sumpit. Derry pun turut hadir malam itu. Namun, terkait statusnya di Uprealband, saat itu belum ada keputusan apa pun. Semuanya masih berjalan begitu saja. Malam Ulang Tahun Rini Acara dimulai selepas Isya. Di bawah tenda milik Uprealband yang saat itu memang sering disewakan, alat-alat mulai berbunyi. Tidak ada panggung mewah ataupun tata cahaya khusus. Hanya acara sederhana yang digelar keluarga Rini untuk merayakan har...

Bab 19: Mixer Hadir, Derry Ikut Jamming, dan Dilema Soal Drummer

Gambar
  Akhirnya, mixer Peavey hadir juga di UP-REAL Studio. Kami pun mulai melakukan pengetesan. Karena posisi drummer masih belum jelas, Obhik kembali bolak-balik menjadi drummer dadakan. Hahaha... Di tengah proses itu, suatu hari Temmy yang melihat uprealband seperti tidak ada drummer, akhirnya membawa seorang kenalannya bernama Derry. Saat itu, Derry masih sekolah SMU, yang kebetulan lokasinya sangat dekat dengan UP-REAL Studio. Kami pun beberapa kali jamming bersama, dengan Derry duduk di belakang drum. Dari beberapa kali latihan itu, gue melihat Derry punya pukulan yang mantap dan gaya bermain yang asyik. Kehadirannya tentu membuat kami punya kesempatan untuk merasakan bagaimana latihan dengan seorang drummer yang memang terbiasa memainkan drum. Tapi di sisi lain, ada hal yang terus gue pikirkan. Sejak awal, Uprealband sudah punya komitmen dengan Apoy sebagai drummer. Sementara itu, Apoy masih mudik di Weleri, Kendal, Jawa Tengah. Menghubungi orang dari jarak sejauh itu pada zaman ...

Bab 18: Mixer Peavey, Mimpi Bikin Video Klip, dan Perjalanan yang Kebolak-Balik

Gambar
(gambar ilustrasi) Setelah test sound pertama, kami tahu bahwa ampli rakitan dari tetangganya Gerry berfungsi. Mic dan perangkat lainnya juga bisa digunakan. Selanjutnya, agar bisa mulai latihan bareng, Obhik mengusulkan agar kami membeli mixer. Jon juga menimpali, “Kalau memang setelah dites layak untuk latihan, kita bisa buka jasa rental studio. Lumayan, bisa menambah pemasukan.” Gue langsung mengingatkan, “Tapi jangan lupa, Jon, lu hitung juga biaya penyusutan alat, kan?” Jon menjawab, “Oh ya, tentu. Itu nanti dihitung saat kita menentukan biaya sewa per jam.” Wkwkwkwk... Untungnya, Glen juga sudah mulai main ke studio, tentunya bersama Lia. Glen yang lebih sering berada di dunia luar punya banyak kenalan, termasuk orang-orang yang menjual barang bekas alat musik. Akhirnya, kami membeli mixer bekas merek Peavey. Mulailah pengetesan dengan rangkaian sederhana: mixer, ampli rakitan, lalu speaker rakitan. Sementara itu, kabar Apoy masih belum terdengar. Gara-Gara Mau Bikin Video Klip K...