Pengantar Perjalanan Uprealband 2004 hingga Kini: Papa Dulu Punya Band?

KATA PENGANTAR 

Perjalanan Uprealband

Ada satu pertanyaan dari anak gue yang akhirnya bikin gue bongkar-bongkar masa lalu sendiri.

“Papa dulu beneran punya band?”

Kejadiannya sekitar awal Maret 2026.

Anak gue lahir tahun 2015, sedangkan Uprealband mulai terbentuk pada 2004. Jadi, waktu cerita-cerita awal band ini terjadi, dia bahkan belum ada. Dia juga belum pernah melihat gue manggung secara langsung. Yang pernah dia lihat paling video-video lama di YouTube.

Waktu dia mulai penasaran, gue malah bilang:

“Coba tanya Gemini atau GPT.”

Gue sendiri sudah lupa waktu itu dia bertanya ke Gemini atau GPT. 😂

Dia mulai mencari informasi tentang Uprealband, menanyakan siapa saja personelnya, sampai akhirnya menemukan nama gue.

Anak gue langsung bilang:

“Itu Papa saya.”

Entah kenapa, AI membalas kurang lebih begini:

“Wah, salam hormat untuk papanya.”

Anak gue kaget. Sementara gue cuma membaca jawaban itu dengan muka sok cool. Dalam hati gue berpikir, wah, bakal panjang urusannya ini.

Kalau mau membuka kembali cerita Uprealband, gue nggak bisa begitu saja menulis seolah-olah semua itu cuma cerita gue. Ada personel lain, teman-teman, dan orang-orang yang pernah terlibat di dalam perjalanan band ini. Ingatan mereka juga penting, apalagi setelah waktu berlalu lebih dari dua puluh tahun.

Akhirnya gue mulai membongkar barang-barang lama. Cari data, file, dan CD. Sampai ketemu lagi album Uprealband Evolution, yang kami buat dan rilis sekitar 2010.

Lalu anak gue bertanya lagi:

“Kalau Papa memang dulu punya band, kok lagunya nggak ada di Spotify?”

Nah, ini lagi. 😂

Dari situ gue mulai berpikir, kenapa karya lama yang masih bisa diselamatkan nggak dibawa kembali ke dunia digital? Gue mulai mencari file audio, membongkar data lama, dan membereskan metadata. Sampai akhirnya lagu “Lepaslah” masuk ke Spotify.

Anak gue pun bisa mendengarkan sendiri lagu yang dulu gue buat bersama teman-teman.

Setelah lagunya kembali, muncul pikiran berikutnya:

“Kalau lagunya bisa dikembalikan, kenapa ceritanya nggak sekalian disimpan?”

Ide Buku Ini Sebenarnya Bukan Ide Baru



Dokumentasi konsep buku Uprealband dari sekitar 2010.

Sebenarnya, sekitar 2010 gue sudah pernah kepikiran membuat buku tentang perjalanan Uprealband. Tapi waktu itu idenya mandek. Ada pekerjaan, keluarga, dan berbagai urusan lain. Pada 2012 gue menikah, kemudian punya anak-anak yang menggemaskan, termasuk anak laki-laki gue yang agak cerewet ini. Hahaha. Sebagai ayah, gue bangga juga melihat pola pikir kritisnya. Mirip-mirip bapaknya lah. 😂

Selain buku, gue pernah mencoba menceritakan perjalanan Uprealband lewat komik.

Salah satu gambar komik Uprealband yang dirilis pada 2010.

Komiknya sempat berjalan sampai seri ketujuh, Uprealband's Comic #7: “Manggung Perdana Formasi Baru”. Setelah itu, mandek lagi.

Sekarang gue berpikir, zaman sudah berubah. Ada AI yang bisa membantu menyusun tulisan. Bukan berarti AI tahu cerita Uprealband. Bahan ceritanya tetap berasal dari gue, orang-orang yang pernah mengalaminya, dan dokumentasi yang masih tersedia.

Gue lalu memutuskan untuk mengerjakannya sedikit demi sedikit. Satu cerita, satu bab. Kalau selesai, gue kirim ke grup WhatsApp teman-teman yang dulu sering nongkrong di studio.

Gue bukan cuma ingin menunjukkan bahwa gue sedang membuat buku. Gue juga butuh bantuan mereka untuk mengingat dan memeriksa ceritanya.

Responsnya macam-macam.

Ada yang langsung menyemangati:

“Gilaaa... hajar! Jangan kasih kendor!”

Ada yang mengamankan kepentingannya sendiri:

“Jangan lupa band gue jadi ada ya di cerita.” 😂

Ada juga yang bilang:

“Wah, jarang-jarang band indie masih inget cerita masa lalu dan malah dijadiin buku. Gasss!”

Apoy punya versinya sendiri:

“Pokoknya gas terus, Uprealband! Let’s rockkk !!!”

Tapi yang paling gue butuhkan sebenarnya adalah koreksi. Kalau ada bagian yang salah, tolong bilang. Kalau ada cerita yang gue lupa, tambahkan. Kalau punya versi cerita sendiri, sampaikan.

Gue memang orangnya lupaan. 😂

Setelah mulai bertanya kepada teman-teman lama, ternyata banyak cerita lain yang ikut muncul. Kadang gue ingat satu bagian, sementara orang lain ingat bagian berbeda. Ada juga yang membuat gue harus mencari dan memeriksa ulang ingatan sendiri.

Ingatan yang Masih Tersisa

Salah satunya pernah gue tanyakan kepada Oppie, seorang gitaris yang dulu beberapa kali nge-jam bareng kami di studio.

Gue menghubunginya:

“Bro, dulu kita kan pernah jammin di studio. Kita pernah latihan lagu Uprealband yang judulnya apa dulu ya?”

Gue masih ingat satu bagian ketika Oppie pernah bilang:

“Oh, jadi part itu ada codanya...”

Waktu itu gue cuma manggut-manggut. Dalam hati malah bertanya, “Coda tuh apaan ya?” 😂 Maklum, yang penting waktu itu musiknya jalan dulu. Istilahnya belakangan.

Gue kira Oppie masih ingat lagu yang dimaksud. Ternyata dia juga lupa judul dan waktunya, tetapi masih ingat bahwa kami memang pernah latihan bersama.

Dari situ gue sadar bahwa ingatan seseorang bisa menyimpan satu bagian kejadian, tetapi kehilangan detail lainnya. Karena itu, gue mulai menghubungi orang-orang yang pernah berada di sekitar Uprealband. Bukan cuma personel, tetapi juga teman studio, orang yang pernah latihan atau nge-jam bersama, dan siapa pun yang mungkin masih mengingat suatu kejadian.

Gue nggak mau hanya mengandalkan ingatan sendiri.

GASSS!!!

Sebelum cerita-cerita ini dirilis, gue menghubungi personel Uprealband lewat grup WhatsApp untuk menjelaskan rencana menghidupkan kembali karya lama dan mendokumentasikan perjalanan band.

Gue kira bakal ada diskusi panjang.

Ternyata responsnya:

“GASSS!!!” 😂

Setelah beberapa bab gue bagikan ke teman-teman lama, cerita yang muncul malah semakin banyak.

Jon pernah mengingatkan:

“Jangan lupa tentang voting. Keren tuh, ngeband kok ada voting kayak pemilu.”

Iya juga. Kalau dipikir sekarang, memang unik. Ngeband kok ada voting kayak pemilu. 😂

Lalu Gerry mengingatkan bahwa motor yang mereka gunakan dulu berjasa saat Uprealband belum punya studio.

“Jangan lupa motor Shogun itu berjasa banget saat kita belum punya studio.”

Jon langsung membetulkan:

“Lho, bukan Shogun. Tapi Tornado 2 tak.”

Gerry menjawab:

“Hooh, rantainya copot mulu.”

Gue ikut menambahkan:

“Lha bodynya geter-geter berisik!”

Jon masih sempat menimpali:

“Yoi, warna hijau ala belalang tempur Satria Baja Hitam dong.”

😂😂😂

Dari satu cerita, muncul cerita lain. Ada yang mengoreksi, ada yang menambahkan, dan ada juga yang mengingat detail yang sebelumnya sudah terlupakan. Bahkan urusan motor yang rantainya sering copot pun ikut dibahas lagi.

Buat gue, hal-hal seperti itulah yang membuat proses mengumpulkan cerita ini menarik. Bukan hanya kejadian besar yang diingat, tetapi juga detail keseharian yang ternyata masih melekat setelah sekian lama.

Tentang Ingatan dan Dokumentasi

Gue nggak mau mengklaim bahwa setiap detail dalam Perjalanan Uprealband pasti sama persis dengan kejadian aslinya. Banyak peristiwa sudah berlangsung lebih dari dua puluh tahun. Tanggal bisa terlupa, urutan kejadian bisa berbeda, dan percakapan tentu tidak semuanya bisa diingat kata demi kata.

Karena itu, sebisa mungkin gue memeriksa kembali cerita dengan orang-orang yang terlibat atau menjadi saksi, selama masih bisa dihubungi. Kalau ada dokumentasi lama, gue cocokkan. Kalau ada versi cerita yang berbeda, gue dengarkan. Kalau gue lupa, gue akui lupa.

Yang ingin gue jaga adalah kejujuran dalam menceritakan peristiwa, bukan membuat semua detail terlihat sempurna.

Tulisan ini disusun berdasarkan ingatan orang-orang yang mengalami atau menyaksikan kejadian, serta dokumentasi yang masih bisa ditemukan. Kalau ada bagian yang perlu dikoreksi atau dilengkapi, masukan itu menjadi bagian penting dari proses penyusunan arsip ini.

Tujuannya sederhana: menyimpan cerita tentang perjalanan Uprealband sebelum semakin banyak bagian darinya hilang karena waktu.

Kenapa Sekarang?

Mungkin ada yang bertanya, kenapa baru sekarang?

Jawabannya, karena sekarang gue mulai benar-benar mengerjakannya.

Dulu gue pernah merencanakan buku dan membuat komik, tetapi keduanya berhenti di tengah jalan. Kali ini gue mencoba menyelesaikannya dengan bantuan AI.

Namun, AI tetap tidak bisa menggantikan orang yang mengalami ceritanya. AI tidak berada di studio ketika kami latihan, tidak ikut voting, dan tidak mengalami sendiri kejadian-kejadian yang kami alami. Bahan cerita tetap harus berasal dari manusia yang terlibat dan dokumentasi yang tersedia.

AI membantu gue menyusun bahan tersebut menjadi tulisan. Selebihnya, gue tetap harus mencari arsip, menghubungi teman-teman lama, mengingat kejadian, dan memeriksa kembali informasi yang ada.

Jadi, meskipun sekarang ada AI, prosesnya tetap membutuhkan waktu. 😂

Gue akan mengerjakannya sedikit demi sedikit. Cerita disusun menjadi bab, dibagikan kepada teman-teman yang berkaitan, lalu diperiksa dan dilengkapi jika ada informasi yang kurang.

Semoga kali ini proyeknya bisa terus berjalan sampai selesai, tidak seperti rencana buku tahun 2010 atau komik yang dulu berhenti setelah beberapa seri.

Kalau nanti anak gue bertanya lagi:

“Papa dulu beneran punya band?”

Gue nggak perlu cuma menjawab, “Iya.”

Gue bisa bilang:

“Ini ceritanya.”

Selamat datang di Perjalanan Uprealband.

Sebelum mulai, gue mohon maklum kalau dalam buku ini nantinya cukup banyak cerita yang disampaikan dari sudut pandang gue. Tentu saja, ingatan dan pengalaman gue punya keterbatasan. Karena itu, gue tetap terbuka terhadap koreksi, tambahan cerita, dan sudut pandang lain dari teman-teman yang pernah terlibat.

Perjalanan ini gue mulai dari masa sebelum Uprealband terbentuk, ketika semuanya masih berada di tahap awal dan nama Uprealband belum ada.

BAB 1 — 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada

Popular Posts

BAB 1 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada

BAB 14 Pasir Digoreng, Glasswool ala Ninja, dan Perjuangan Menyulap Studio