BAB 10 Tim Sablon Bertambah, Studio Musik Jadi Gagasan
Kesibukan di konveksi rumahan @up-real production makin gila-gilaan setelah proyek besar kaos perpisahan anak sekolah. Di saat itulah, sepupu gue datang dari kampung di Jawa ke Depok. Niat awalnya sih mau cari kerja, eh, malah ikut membantu pekerjaan sablon yang lagi padat-padatnya. Namanya Opang.
Seiring berjalannya waktu, Opang didorong untuk mengikuti kursus sablon dari lembaga resmi biar keahlian teknisnya makin jago. Kehadiran Opang membantu pembagian tugas di dalam workshop yang makin sempit menjadi lebih teratur.
Di masa-masa itu juga, rombongan rekan kerja Ahenk dari pabrik MEIWA yang penasaran akhirnya benar-benar datang mengunjungi kontrakan Babe. Kondisi markas saat itu sudah penuh sama jemuran hasil sablon, tumpukan kertas kue cokelat, buku katalog, drum bekas, dan bass Masion bekas.
Anehnya, teman-teman Ahenk ini sama sekali nggak kaget saat masuk. Mungkin sebelumnya mereka sudah dikasih tahu sama Ahenk kalau logo @up-real yang ada di dada mereka itu sebenarnya nama sebuah band indie. Mereka malah support banget sama Uprealband dan berjanji bakal datang menonton kalau ada kabar manggung.
Sementara itu, proyek kaos massal untuk tour perpisahan ke Yogyakarta dikerjakan bareng-bareng secara gotong royong. Pada masa itu, Dewa sedang berada dalam semangat terbaiknya. Dia ikut turun tangan dan totalitas membantu pekerjaan.
Seingat gue, dari proyek kaos satu angkatan itu, Dewa mendapatkan bagian duit yang lumayan banget. Jumlah yang pada zaman itu terasa sangat berarti setelah dia ikut berjuang di tengah kesibukan sablon.
Lucunya, ketika berbagai pekerjaan mulai menghasilkan perputaran duit, kami baru sadar dengan aset yang sudah dimiliki. Uprealband sudah punya drum bekas merek Rolling berwarna merah yang sebelumnya dibeli Jon dan kemudian berhasil kembali menjadi milik Uprealband. Selain itu, sudah ada satu bass elektrik merek Masion.
Masalahnya, tempat buat bikin studio saja belum ada. Kalau dipikir-pikir sekarang, urutan pengadaan barangnya memang kocak dan aneh. Drum sudah ada, bass juga sudah ada, tetapi tempat studionya belum ada.
Dari obrolan di tengah kontrakan yang makin sesak oleh perlengkapan sablon dan alat musik itulah, mulai muncul satu pertanyaan baru.
"Lha..."
"Kenapa nggak bikin studio sendiri sekalian?"
Pertanyaan yang kedengarannya sederhana itu muncul di tengah kondisi kami saat itu. Drum sudah ada, bass sudah ada, sementara kontrakan Babe makin penuh dengan urusan sablon.
Tapi kalau memang mau bikin studio sendiri, terus di mana tempatnya?
Pertanyaan itu masih menggantung. Gagasan sudah muncul, tetapi bagaimana kelanjutannya?
