BAB 12 Proposal Disetujui, Pembangunan Studio Dimulai

 

(gambar hanya ilustrasi)

Selang beberapa hari kemudian, Babe menghampiri gue, lalu melempar proposal itu tepat ke dada gue sambil berkata, “Boleh pakai kontrakan sebelah untuk studio, tapi inget, jangan pakai duit Babe!!”

Saat itu, gue masih bengong dan setengah nggak percaya kalau proposal nekat gue benar-benar disetujui. Sore atau malamnya, gue langsung membagikan kabar baik itu ke anak-anak di kontrakan sablon. Gue lupa siapa saja yang berkumpul waktu itu, tapi mereka sempat heran dan bertanya-tanya kenapa proposal itu bisa tembus.

Dokumen fisik proposal itu dikembalikan Babe ke tangan gue dan langsung gue bawa ke markas sablon sebagai bukti legalitas kami, meskipun saat itu kontrakan sebelah sebenarnya masih dalam status tersewa oleh orang lain.

Begitu masa sewa penghuni lama berakhir, anak-anak Uprealband langsung menggelar rapat kecil untuk memulai langkah pembangunan. Guna menghemat pengeluaran karena dana yang terbatas, mereka sepakat melakukan pengiritan maksimal.

Untuk urusan pembongkaran struktural, mereka memercayakannya kepada tukang bangunan harian yang kebetulan adalah ayahnya Wawan. Masyarakat sekitar memanggilnya Bang Tagor, padahal bukan orang Batak, hahaha.

Tugas tukang (Bang Tagor) sengaja dibatasi agar hemat, yaitu hanya membongkar jendela depan kontrakan lalu menutup seluruh bagian itu dengan tembok bata. Pekerjaan tukang ini terhitung cepat dan nggak sampai memakan waktu berhari-hari.

Pada masa pengerjaan awal itu, gue sendiri masih bekerja di Jakarta, jadi gue hanya bisa memantau langsung pada hari Sabtu dan Minggu, atau pulang mendadak jika ada urusan darurat. Jon juga sudah bekerja di Jakarta sebagai pialang saham, namun dia memilih untuk selalu pulang-pergi setiap hari kerja antara kantor dan rumah Babe di Depok.

Pengerjaan fisik studio itu pertama kali dieksekusi tepat pada tanggal 26 Desember 2004. Karena di dalam kontrakan memang tidak ada fasilitas TV dan kondisi aliran listrik juga sengaja dipadamkan selama renovasi, anak-anak Uprealband sama sekali nggak tahu kalau di belahan Indonesia lain sedang terjadi musibah besar tsunami Aceh. Mereka baru menyadari skala bencana dahsyat itu beberapa hari kemudian.

Selama tukang sibuk menjebol dan menembok dinding, anak-anak Uprealband dan kru bergerak lincah mengamankan seluruh peralatan sablon ke tempat yang aman agar tidak terkena debu bangunan. Aset berharga seperti satu set drum dan perlengkapan lainnya ikut digeser.

Inget, awalnya kontrakan itu terdiri dari dua sekat, dan otomatis masing-masing memiliki toilet sendiri. Nah, toilet di sekat kontrakan yang bakal jadi studio itu kemudian dialihfungsikan menjadi gudang dadakan untuk menyimpan stok sablon. Jadi, kami malah sibuk bikin ambalan seperti rak-rak yang ditempel di dinding toilet untuk meletakkan botol-botol tinta sablon, termasuk semua perlengkapan sablon lainnya. Sementara itu, toilet yang satu lagi tetap digunakan sebagaimana mestinya.

Setelah tukang pergi dan dinding luar sudah tertutup rapat, lalu siapa yang bakal melanjutkan membangun bagian dalam studionya? Apakah kami sendiri yang harus turun tangan melanjutkannya secara DIY?

Simak halaman berikutnya....

Popular Posts

Pengantar Perjalanan Uprealband 2004 hingga Kini: Papa Dulu Punya Band?

BAB 1 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada

BAB 14 Pasir Digoreng, Glasswool ala Ninja, dan Perjuangan Menyulap Studio