BAB 13 Giliran Anak Band Turun Tangan, Bangun Studio Pakai Cara Sendiri


(gambar hanya ilustrasi)

Setelah urusan tukang bangunan harian selesai, giliran kami, anak-anak Uprealband dan kru, yang mengambil alih pekerjaan berikutnya. Opang, Dewa, Temmy, Obhik, Gerry, gue, dan yang lainnya mulai bahu-membahu. Siapa pun yang punya waktu luang, langsung merapat. Pokoknya, kami berusaha mewujudkan studio ini dengan tenaga sendiri.

Kalau diingat-ingat, cara kami merancang tata ruang waktu itu masih sangat manual. Nggak ada arsitek, nggak ada aplikasi desain. Modal kami cuma alat seadanya, seperti tali, meteran, dan kapur tulis buat bikin garis-garis di lantai.

Tapi, di antara kami semua, Obhik yang paling memikirkan soal desain tata ruangnya. Maklum, kelak dia juga yang bakal menjadi sound engineer di studio itu. Jujur aja, waktu itu arahnya memang sudah mulai ke studio rekaman, tapi kapan bakal benar-benar terwujud, ya entahlah. Yang jelas, desainnya sudah mulai dipikirkan sejak saat itu.

Lucunya, meskipun modal terbatas dan kami bukan tenaga profesional di bidang pembangunan studio, pikiran kami sudah sampai ke konsep tata ruang studio rekaman profesional. Berbekal garis kapur di lantai, kami mulai menentukan ruangan mana yang bakal dipakai untuk take vokal, mana untuk operator, mana yang jadi ruang tunggu personel band saat sesi rekaman, sampai ruang utama tempat semua alat musik nantinya ditempatkan.

Gaya banget emang! Udah mikirin ruang khusus buat vokal segala, lengkap dengan jendela kaca yang memungkinkan operator melihat ke ruang vokal, bahkan sampai tembus pandang ke ruang take drum alias ruang studio utama. Hahahaha, kocak kalau diingat!

Bukan cuma pembagian ruangan, jalur instalasi kabel dan pintu masuk utama dengan sistem dua lapis pun sudah kami pikirkan. Harapannya, cara ini bisa membantu meredam kebocoran suara ke luar.

Akhirnya, urusan interior kami kerjakan sendiri tanpa menyewa tukang profesional. Semuanya benar-benar mengandalkan tenaga dan kemampuan kami yang masih amatir.

Dengan rancangan yang mulai tergambar di lantai, kami pun punya gambaran tentang bentuk studio yang ingin diwujudkan. Tapi, merancang tata ruang tentu baru langkah awal. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan tenaga sendiri dan dana yang terbatas.

Lalu, bagaimana kami mulai mengerjakan bagian interiornya? Bahan apa saja yang kami gunakan, dan bagaimana cara kami menyiasati keterbatasan biaya untuk membuat studio ini benar-benar terwujud?

Simak halaman berikutnya....



Popular Posts

Pengantar Perjalanan Uprealband 2004 hingga Kini: Papa Dulu Punya Band?

BAB 1 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada

BAB 14 Pasir Digoreng, Glasswool ala Ninja, dan Perjuangan Menyulap Studio