Bab 18: Mixer Peavey, Mimpi Bikin Video Klip, dan Perjalanan yang Kebolak-Balik

(gambar ilustrasi)

Setelah test sound pertama, kami tahu bahwa ampli rakitan dari tetangganya Gerry berfungsi. Mic dan perangkat lainnya juga bisa digunakan.

Selanjutnya, agar bisa mulai latihan bareng, Obhik mengusulkan agar kami membeli mixer.

Jon juga menimpali,

“Kalau memang setelah dites layak untuk latihan, kita bisa buka jasa rental studio. Lumayan, bisa menambah pemasukan.”

Gue langsung mengingatkan,

“Tapi jangan lupa, Jon, lu hitung juga biaya penyusutan alat, kan?”

Jon menjawab,

“Oh ya, tentu. Itu nanti dihitung saat kita menentukan biaya sewa per jam.”

Wkwkwkwk...

Untungnya, Glen juga sudah mulai main ke studio, tentunya bersama Lia. Glen yang lebih sering berada di dunia luar punya banyak kenalan, termasuk orang-orang yang menjual barang bekas alat musik.

Akhirnya, kami membeli mixer bekas merek Peavey. Mulailah pengetesan dengan rangkaian sederhana: mixer, ampli rakitan, lalu speaker rakitan.

Sementara itu, kabar Apoy masih belum terdengar.

Gara-Gara Mau Bikin Video Klip

Kalau gue ingat-ingat, sekitar tahun 2004 urusan biaya kuliah S1 gue sudah selesai. Sejak mulai gawe tahun 2000, hampir semua kebutuhan gue sudah gue biayai sendiri, mulai dari ongkos sehari-hari sampai biaya kuliah. Cuma urusan makan yang masih numpang di rumah orang tua.

Setelah kuliah selesai, gue punya sedikit rezeki lebih yang bisa ditabung dan digunakan untuk mulai serius di dunia band.

Gue juga sudah mengenal komputer sejak bokap membeli komputer pada tahun 1996. Pengalaman itu kadang kepakai di tempat gawe. Kalau ada komputer teman yang bermasalah, gue suka membantu memperbaikinya. Sesekali, dapat juga duit tipis-tipis dari situ.

Tapi tetap saja, gue nggak sejago Obhik dalam urusan komputer saat itu.

Pokoknya, selama masih bisa menghasilkan uang, gue jalani saja. Bodo amat orang mau ngomong apa!

Mungkin, kondisi itu juga menjadi salah satu alasan orang tua gue nggak begitu melarang gue menjalani dunia band. Gue sudah bekerja dan membiayai banyak kebutuhan sendiri. Barangkali mereka melihat gue sudah cukup mandiri untuk menentukan apa yang ingin gue jalani.

Tapi itu cuma dugaan gue sekarang. Gue sendiri nggak tahu pasti apa yang ada di pikiran mereka saat itu.

Kalau sekarang gue mengingat perjalanan ini, kadang gue sendiri sampai bertanya-tanya.

Ini sebenarnya jalan yang kami tempuh keliru nggak sih?

Wkwkwkwk...

Awalnya cuma mau bikin video klip. Eh, malah merembet ke urusan sablon, terus lanjut membangun studio sendiri.

Lah, kok jadi ke mana-mana?

Gue cuma ingin serius di dunia band. Obhik memikirkan kebutuhan teknis, Jon membantu menentukan prioritas pembelian, dan Glen membuka jalan untuk mendapatkan perlengkapan lewat kenalan-kenalannya.

Terkadang, bermimpi itu murah. Mewujudkannya yang butuh biaya.

Sekarang, gue cuma bisa tertawa kalau mengingat bagaimana semuanya bermula. Kami nggak punya rencana besar yang tersusun rapi. Kami hanya menjalani apa yang ada di depan mata, satu demi satu.

Dan di tengah perjalanan itu, kabar Apoy masih belum terdengar.

Yuk, intip kelanjutannya di halaman berikutnya....

Popular Posts

Pengantar Perjalanan Uprealband 2004 hingga Kini: Papa Dulu Punya Band?

BAB 1 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada

BAB 14 Pasir Digoreng, Glasswool ala Ninja, dan Perjuangan Menyulap Studio