Bab 21: Formasi Lengkap, Latihan Rutin, dan Persiapan Membuka Rental Studio

(gambar ilustrasi)
Akhirnya, formasi Uprealband lengkap juga. Kami mulai latihan bareng, meskipun jadwalnya harus menyesuaikan kesibukan masing-masing.
Gue, Gerry, dan Jon sama-sama bekerja. Karena itu, latihan biasanya dilakukan pada hari Sabtu atau Minggu. Kalau ada kebutuhan mendesak, terkadang kami juga latihan pada malam hari di hari kerja.
(Foto kiri - kanan : Jon (baju merah) Apoy (memegang gitar akustik) Gerry (memegang bass maison) Gue / Bany (kaos hitam)
Kami mulai membahas lagu-lagu lama Uprealband yang sebelumnya gue buat bersama personel era Bougenville. Apoy sendiri belum begitu mengenal lagu-lagu tersebut, jadi kami perlu mulai mengenalkannya satu per satu dalam sesi latihan.
Sementara itu, kondisi studio terus kami benahi, mulai dari pengkabelan hingga berbagai kebutuhan lainnya. Sedikit demi sedikit, studio yang awalnya hanya digunakan untuk kebutuhan kami sendiri mulai terasa cukup siap untuk dibuka secara umum sebagai jasa rental studio.
Rapat Kecil Menentukan Tarif
Setelah merasa studio sudah lumayan siap dipakai, anak-anak Uprealband dan crew pun mengadakan rapat kecil.
Ya, nggak resmi-resmi amat. Cuma ngobrol-ngobrol untuk menentukan harga sewa studio per jam.
Jon waktu itu punya ide sederhana. Menurutnya, harga sewa sekalian saja sudah termasuk empat gelas air mineral. Jadi, anak-anak band yang latihan nggak perlu repot membeli minum lagi.
Ide itu pun langsung disetujui.
Gue juga ikut menyampaikan usul. Setiap band yang datang latihan sebaiknya mengisi data sederhana, mulai dari nama band, nomor kontak, sampai alamat. Siapa tahu suatu saat ada informasi event atau kesempatan manggung yang bisa kami sampaikan kepada mereka.
Kalau sekarang, mungkin istilahnya database. Tapi waktu itu, pokoknya dicatat saja dulu.
Hehehe...
Obhik juga mengingatkan bahwa kami perlu membuat aturan yang jelas. Misalnya, kalau ada alat yang rusak saat digunakan untuk latihan, siapa yang harus bertanggung jawab?
Masa iya semuanya langsung pura-pura nggak tahu?
Wkwkwkwk...
Akhirnya, beberapa aturan pun mulai disusun.
Gue sendiri sudah lupa siapa yang mendesainnya. Namun, yang jelas, aturan itu benar-benar dibuat. Setelah dicetak, lembar aturan tersebut dimasukkan ke dalam pigura layaknya foto, lalu dipajang di dinding ruang tamu studio agar mudah dibaca oleh siapa saja yang datang.
Ada Bumper Sambutan Juga
Seiring berjalannya waktu, Obhik bahkan sempat membuat semacam bumper audio untuk studio. Isinya suara narator yang menyambut para pengunjung.
"Selamat datang di UP-REAL Studio, selamat belajar, berlatih, dan berkarya..."
Kalau tidak salah, penyusunan bumper ini juga dibantu oleh Lia.
Sebenarnya, kalimat “Belajar, Berlatih & Berkarya” bukanlah moto yang baru muncul saat studio mulai beroperasi. Sejak era nyablon, Uprealband sudah menggunakan moto tersebut.
Tulisan itu bahkan sempat disablon pada beberapa kaos. Di bagian depan terdapat logo @up-real, sedangkan di bagian belakang tercetak tulisan “Belajar, Berlatih & Berkarya”.
Jadi, ketika kalimat serupa digunakan dalam bumper sambutan UP-REAL Studio, moto itu sudah punya perjalanan tersendiri bersama Uprealband.
Sedikit demi sedikit, semuanya mulai terasa seperti studio latihan sungguhan. Tarif sudah ditentukan, aturan sudah dipajang, bahkan suara penyambut pun sudah tersedia.
Tinggal satu hal yang masih kurang.
Masa studio latihan sudah siap, tapi orang-orang yang lewat nggak tahu kalau di situ ada UP-REAL Studio?
Hehehe...
Dan benar saja, tidak lama kemudian anak-anak Uprealband dan crew mulai memikirkan bagaimana caranya supaya keberadaan studio kecil mereka bisa terlihat dari jalan.
Yuk, intip kelanjutannya di halaman berikutnya....
