Bab 23: Selebaran Fotokopian, Band Sekolah, dan Nostalgia Suzuki Tornado

 

(gambar ilustrasi)

Semua akhirnya sudah terpasang. Gue, anak-anak Uprealband, dan crew pun mulai memikirkan bagaimana caranya supaya studio yang susah payah kami bangun itu bisa dikenal orang.

Akhirnya, dibuatlah selebaran sederhana hasil fotokopian.

Kebetulan, lokasi studio memang dekat dengan beberapa sekolah, mulai dari SMP sampai SMA. Bahkan, salah satunya adalah sekolah tempat gue dan Gerry dulu pernah menuntut ilmu. Selebaran-selebaran itu pun dibagikan saat jam pulang sekolah.

Ternyata, cara sederhana itu cukup berhasil. Seingat gue, ada beberapa band anak SMU yang akhirnya datang dan mencoba latihan di UP-REAL Studio.

Sesuai rencana yang sudah kami bahas sebelumnya, para penyewa langsung disuguhi air mineral gelas sebelum masuk studio. Setelah masuk, bumper musik yang dibuat Obhik diputar terlebih dahulu. Begitu semua personel siap memainkan alat musiknya, bumper pun dimatikan.

Dewa saat itu juga sudah ikut membantu menyiapkan kebutuhan para penyewa. Mulai dari menemani setting alat, colok-colok jack, sampai menyalakan AC. Pokoknya, Dewa sudah seperti operator studio juga, hehehe...

Saat itu, sistem penghitungan jam masih dilakukan secara manual. Di ruang operator maupun di dalam studio dipasang jam dinding dengan waktu dan detik yang sama. Jadi, gampang buat memantau waktu latihan.

Di dalam studio juga disediakan tombol bel untuk memanggil operator kalau ada kendala. Ya maklum, zaman itu belum ada aplikasi booking, belum ada WhatsApp, bahkan smartphone pun belum seramai sekarang.

Pelan-pelan, studio mulai berjalan sebagaimana mestinya.

Gue juga masih ingat melihat band-band yang datang latihan mengisi biodata di kertas yang telah disediakan. Nama band, nomor telepon, alamat, semuanya ditulis tangan. Yang tadinya cuma ide waktu rapat kecil, sekarang benar-benar dipakai.

Kadang-kadang, gue, Gerry, dan Jon suka ketawa sendiri melihat semua itu. Rasanya seperti nggak percaya kalau studio yang kami bangun dengan modal nekat akhirnya benar-benar berjalan dan berfungsi.

Hihihi...

Nostalgia Sebelum Punya Studio

Suatu hari, gue berkata kepada Gerry,

"Ger, lu ingat nggak kita dulu pernah mau latihan, zaman ngeband masih sama Aqew itu lho?"

Gerry langsung ketawa.

"Iya, gue inget. Kita udah bela-belain ke sana pakai motor bertiga boncengan, hujan-hujan pula. Eh, sampai sana penjaga studionya malah bilang, 'Aduh, Mas, sudah tutup!!!' sambil nutup rolling door, wkwkwk..."

Jon yang mendengar itu langsung ikut nimbrung.

"Iyak. Pakai motor andalan gue, Suzuki Tornado 2-tak hijau ala Satria Baja Hitam, hahahahaha..."

Buat yang belum tahu, Satria Baja Hitam adalah pahlawan super Jepang yang populer di televisi Indonesia pada era 1990-an. Tokoh ini punya motor andalan bernama Belalang Tempur, yang berwarna hijau dan punya tampilan khas.

Nah, Suzuki Tornado 2-tak punya Jon tentu bukan Belalang Tempur sungguhan. Cuma, warna hijaunya mengingatkan kami pada motor tunggangan Satria Baja Hitam. Ditambah lagi, sepak terjang motor Jon sendiri juga punya cerita panjang.

"Banyak jasanya itu motor," timpal Gerry sambil tertawa.

Gue pun ikut menambahkan,

"Mungkin kalau bisa teriak, teriak kali itu motor, hahaha... Sudah bodinya berisik banget, rantainya kadang copot lagi, hahahaha..."

Kami pun tertawa bersama.

Lucunya, dulu kami pernah kehujanan dan pulang dengan kecewa karena gagal latihan di studio orang lain.

Sekarang, tanpa disangka-sangka, justru kami sendiri yang punya studio latihan. Bahkan, sudah ada anak-anak band yang datang untuk berlatih di tempat kami.

Siapa sangka, motor Suzuki Tornado 2-tak hijau yang dulu menemani kami mencari studio itu akhirnya menjadi bagian dari nostalgia perjalanan hidup gue.

Akhir Cerita Suzuki Tornado Hijau

Sayangnya, cerita motor ini ternyata belum selesai sampai di situ.

Sekitar masa COVID-19, Suzuki Tornado hijau itu sempat mangkrak. Sampai akhirnya, kata Emak, ada orang yang membawa motor tersebut dengan janji akan membayarnya secara cicilan.

Gue sudah mengingatkan Emak bahwa urusan seperti itu bakal sulit.

Bukan apa-apa, motor itu masih menggunakan mesin 2-tak yang membutuhkan oli samping. Belum lagi bensinnya yang boros. Jadi, selain harus membayar cicilan, orang yang membawanya juga perlu memikirkan biaya bensin dan oli samping.

Menurut gue, bakal sulit kalau kondisi seperti itu masih harus ditambah kewajiban membayar cicilan.

Dan ternyata benar.

Sampai sekarang, orang yang membawa motor itu nggak terdengar kabarnya lagi. Cicilan yang dijanjikan pun nggak pernah dibayarkan.

Ya sudah, mau bagaimana lagi?

Gue memilih mengikhlaskan saja.

Motor yang dulu menemani perjalanan kami, yang bodinya berisik dan rantainya kadang copot, akhirnya pergi tanpa kabar.

Kalau dipikir-pikir, motor itu punya banyak jasa. Dulu, motor itulah yang mengantar kami bertiga mencari studio untuk latihan. Pernah kehujanan, pernah gagal latihan karena studio sudah tutup, dan sekarang justru menjadi bagian dari cerita ketika kami sudah punya studio sendiri.

Ironis juga kalau diingat sekarang.

Dulu kami naik motor itu untuk mencari tempat latihan. Kemudian, kami membangun tempat latihan sendiri. Bertahun-tahun setelahnya, motor yang sama akhirnya ikut menghilang dari kehidupan gue.

Tapi ya begitulah perjalanan hidup. Ada barang yang menemani kita selama bertahun-tahun, lalu pada akhirnya harus dilepaskan.

Setidaknya, Suzuki Tornado 2-tak hijau itu pernah menjadi bagian dari cerita gue, Gerry, Jon, dan perjalanan Uprealband.

Dan kalau suatu saat gue mengingat motor itu lagi, mungkin yang muncul pertama kali tetap kenangan lama: boncengan bertiga, kehujanan, bodi motor berisik, rantai copot, lalu gagal latihan gara-gara studio keburu tutup.

Hahahahaha...

Yuk, intip kelanjutannya di halaman berikutnya....

Popular Posts

Pengantar Perjalanan Uprealband 2004 hingga Kini: Papa Dulu Punya Band?

BAB 1 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada

BAB 14 Pasir Digoreng, Glasswool ala Ninja, dan Perjuangan Menyulap Studio