Bab 24: Belajar Lagi, Handycam Panasonic, dan Rindu di Panggung Jayabaya

 

(gambar ilustrasi)

Aktivitas rental tetap berjalan seperti biasa. Namun, kalau Uprealband menetapkan jadwal latihan, studio otomatis ditutup sementara atau tidak melayani penyewaan.

Wkwkwkwk...

Setelah Apoy bergabung, kami mulai kembali latihan dengan formasi lengkap. Apoy mencoba memainkan lagu-lagu Uprealband yang sebelumnya sudah dibuat dalam bentuk EP atau mini album.

Gue tanya komentarnya tentang lagu-lagu tersebut.

"Iya, lagunya bagus, tapi jadul. Berasa 90-an banget, hahaha..."

Ya, gue memaklumi karena usia Apoy memang agak terpaut dari kebanyakan personel lain, meski tidak semuda Derry. Buat gue, justru bagus. Mungkin kehadiran Apoy bisa membuat musik Uprealband terasa lebih fresh.

Sementara itu, personel lainnya mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Gerry bahkan sudah menikah dan punya anak. Apoy masih punya waktu lebih untuk mendalami musik dan mengikuti perkembangan musik baru.

Akhirnya, gue punya ide membelikan televisi dan DVD player untuk ruang tamu studio. Gue juga mulai berburu DVD music lesson, video konser, sampai Stage Act Lesson. Semuanya ditonton bersama, termasuk untuk mengikuti perkembangan musik lewat MTV Indonesia kala itu.

Kalau latihan, Apoy seperti mobil yang sudah melaju 100 km/jam, sedangkan yang lain masih di kecepatan 60 km/jam.

Hahahahaha...

Gerry pun nggak mau ketinggalan. Dia sering main ke rumah Glen untuk belajar bass. Glen adalah bassist senior yang dulu membantu mengisi bass saat Uprealband menggarap EP, ketika posisi bassist masih kosong. Saat itu, Gerry masih berada di posisi drum.

Belajar dari Mbah Emil

Seiring waktu, makin banyak teman dan musisi yang main ke studio. Salah satunya Mbah Emil, begitu kami biasa memanggilnya.

Buat kami, Mbah Emil termasuk gitaris legendaris yang masih hidup, hahaha! Main gitarnya jago, dengan teknik sliding yang khas.

Pernah suatu saat Mbah Emil memberi contoh kepada Jon.

"Begini, Jon, speed begini..."

Sreeeetttt.... settttt....

Jon langsung angkat tangan.

"Gue nggak bisa, Mbah, kalau kayak begitu!!!"

Apoy malah terlihat sedikit kecewa. Mungkin baginya, kesempatan diajarin langsung tanpa bayar itu kesempatan emas, hahaha...

gue langsung menenangkan situasi itu, sambil berkata sama Jon "udah jon, mainkan yang lu nyaman aja" 

dalam bathin "gue wah repot ini, emang sih jago itu perlu, tapi Jon itu bukan musisi full time, dia sibuk kerja, sama kayak gue dan Gerry, entahlah gue cuma berfikir mereka yang sibuk kerja masih nyempatin diri ngeband aja udah hebat" .. toh ini semua bisa terwujud juga ada sumbangsih dari duit mereka karena mereka kerja, ya ini sih opini gue lho ya.

sejak kejadian itu, gue sering halau Mbah Emil tuk masuk ke Studio kala Uprealband lagi latihan hahahahaha .... ada aja deh alasan gue .. lha dari pada band ini malah bubar karena merasa tertekan hahahaha .. ya saat itu gue mikir begitu sih hahaha ..

Selain teknik gitar, Mbah Emil juga sempat mengajari berbagai hal tentang aransemen musik. Masa-masa itu memang amburadul-amburadulnya. Semua orang belajar lagi, tanpa gengsi bertanya atau malu mengakui belum bisa.

Handycam Panasonic CCD

Di masa yang sama, Jon memberanikan diri membeli handycam Panasonic CCD secara kredit. Kalau nggak salah, saat itu CCD termasuk yang paling oke kualitasnya. Di acara ini, handycam itu sekalian diuji, hahaha... sekalian lah, wkwkwkwk.

Maklum, ini masih tahun 2005, hehehe...

Handycam itu kelak menjadi salah satu alat penting untuk mendokumentasikan perjalanan Uprealband.

Salah satu penampilan yang terekam adalah ketika kami mengikuti festival atau audisi di Kampus Jayabaya, Jalan Raya Bogor, pada siang hari. Acara tersebut menjadi kesempatan bagi band untuk menjadi pembuka bagi band tingkat nasional.

Kami membawakan lagu ciptaan sendiri, salah satunya "Rindu", yang saat itu baru dibuat sekitar empat bulan sebelumnya.

Kami tampil kompak memakai kaos hitam bersablon logo @up-real. Uprealband juga mengerjakan merchandise sendiri. Ahenk, yang saat itu bekerja di Pabrik Meiwa, ikut membantu menjual kaos tersebut. Dia juga datang menonton sambil mengajak teman-temannya.

Gerry dan Insiden Salah Rangkulan

Saat menunggu giliran tampil, Gerry yang gampang akrab langsung menyapa salah satu penonton.

"Woy, anak mana lu?" tanyanya.

Sambil ngomong begitu, Gerry langsung merangkul orang itu dari belakang.

Masalahnya, badan Gerry tinggi besar. Ditambah pekerjaannya di bidang keamanan, rangkulan itu malah lebih mirip pegangan orang yang mau mengangkat orang buat dibanting daripada ngajak kenalan.

Wkwkwkwk...

Gue, Jon, dan yang lain langsung waswas.

"Duh, Ger, gaya gawe jangan dibawa-bawa..." pikir kami dalam hati.

Saat itu Gerry memang masih agak temperamen. Dulu, waktu gue dan Jon mau membujuk dia pindah posisi menjadi bassist, nah pembaca jadi paham khan kenapa gue memilih menunggu di luar rumah Gerry waktu gerry di rayu jadi bassist dahulu itu hahahahaa 

Untungnya, orang yang dirangkul itu santai dan malah ikut ketawa.

Audisi atau Konser Pribadi?

Dalam rekaman audio "Rindu – Live 2005", terdengar gue mengajak crew ikut bernyanyi. Lalu, suara Dewa terdengar menyahut dan ikut bernyanyi:

"Mungkinkan esok akan kembali..."

Ada juga momen ketika lirik "Hati bicara" gue ubah menjadi:

"Upreal bicara!!!!"

Wkwkwkwk...

Selain lagu "Rindu", gue sudah agak lupa lagu kedua yang kami bawakan.

Setelah acara selesai, rekaman handycam juga menangkap kami berjalan bersama Ahenk keluar dari area kampus menuju parkiran motor. Kami terlihat ketawa-ketawa seperti habis pulang nongkrong biasa.

Dan hasil audisinya?

UPREALBAND GAK LOLOS HAHAHAHAHA!!!

DVD yang Hilang, MP3 yang Bertahan

Setelah penampilan itu, rekaman handycam Jon dibakar ke DVD dan berkali-kali ditonton bersama di ruang tengah studio.

Sekarang, DVD aslinya belum ditemukan. Namun, sebagian jejaknya masih bertahan melalui file MP3 "Rindu – Live 2005" yang berdurasi lebih dari lima menit.

Ketika gue mendengarkannya kembali sekarang, komentar gue kurang lebih begini:

"Busyeeet... durasi woy... durasiii..."

Hahahahaha...

Komik Tahun 2011 Ikut Menyimpan Jejaknya

Pada 2011, Uprealband membuat "Komik Tentang Band: Part 7 – Manggung Perdana Formasi Baru."

Komik tersebut menggunakan screenshot dari video penampilan yang direkam pakai Handycam milik Jon. Beberapa gambarnya menjadi jejak visual dari penampilan yang sama, sementara DVD aslinya belum ditemukan.

Rindu, Impian Kami

Buat gue, judul "Rindu" bukan sekadar tentang seseorang yang dirindukan. Rindu adalah impian kami terhadap karya yang bisa diterima oleh pendengar.

Maknanya tergambar dalam penggalan lirik:

Semua mencerca, semua menghina,
mungkinkan segala cerita cintamu,
akankan jadi milikku... oh yeah.

Rindu, rindu, jangan pernah kau pergi,
tinggalkan aku sendiri,
mungkinkah kau akan kembali?

Impian itu kami titipkan lewat lagu. Kami berharap karya Uprealband bisa sampai ke telinga pendengar dan tetap diingat.

Sekarang, "Rindu" akan kembali dibuat melalui teknologi produksi musik masa kini. Versi baru nantinya menjadi interpretasi dari karya tersebut, sementara rekaman live 2005 tetap disimpan sebagai arsip.

Dengarkan Rindu – Live 2005

Rekaman audio penampilan Uprealband tahun 2005 tersedia melalui pemutar audio berikut.

inget ya ini kondisi 2005 dan bener2 baru mulai manggung lagi dengan formasi baru hahaha .. kocak

RINDU – LIVE 2005

Rekaman penampilan Uprealband dengan formasi baru di Kampus Jayabaya, 2005.

Arsip perjalanan Uprealband · 2005

Yuk, intip kelanjutannya di halaman berikutnya....

Popular Posts

Pengantar Perjalanan Uprealband 2004 hingga Kini: Papa Dulu Punya Band?

BAB 1 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada

BAB 14 Pasir Digoreng, Glasswool ala Ninja, dan Perjuangan Menyulap Studio