BAB 7 Workshop Kontrakan dan Eksperimen Absurd

 


(gambar hanya ilustrasi)

Tahun 2004. Buku panduan sablon yang dibeli gue taruh di atas meja. Malam itu, gue, Obhik, dan Jon mulai mempelajari isi buku tersebut. Ada istilah-istilah baru yang mesti kami pahami, seperti afdruk, emulsifier, dan tebal-tipisnya kain screen.

Gue mencatat daftar barang yang harus dibeli. Keesokan harinya, kami langsung mencari perlengkapan sablon.

Zaman itu belum seperti sekarang. Belum ada Google Maps untuk mencari jalan atau layanan pesan antar instan. Kami mesti mencari sendiri toko yang menjual perlengkapan sablon.

Seingat gue, setelah muter-muter mencari jalan, akhirnya kami menemukan toko perlengkapan sablon di kawasan Akses UI, Depok, tidak jauh dari pom bensin yang ada saat itu. Di sana, kami membeli screen, rakel, dan beberapa botol tinta sebagai modal awal.

Untuk percobaan pertama, kami nggak mau langsung mengeluarkan modal besar. Kebetulan, Emak saat itu membuka jasa menjahit di rumah. Gue pun meminta sisa kain potongan jahitan untuk dijadikan bahan percobaan sebelum menyablon kaos.

Saat kami sedang mencoba sablon di halaman rumah, datang Wawan, tetangga depan rumah gue. Waktu itu, dia sedang membawa temannya yang bernama Dewa.

Dewa yang saat itu berprofesi sebagai pengamen jalanan tertarik melihat kegiatan kami. Dia pun ikut nimbrung dan membantu proses gesut-menggesut kain perca.

Obhik juga ikut mengembangkan proses sablon tersebut. Dia merakit sendiri meja sablon manual yang dilengkapi kaca dan lampu neon di bagian bawahnya untuk proses penyinaran film afdruk.

Lama-kelamaan, barang-barang sablon dan kain percobaan mulai memenuhi halaman rumah.

Melihat kondisi itu, Babe (ayah gue, Obhik, dan Jon) akhirnya memberikan solusi.

Sejak pensiun pada 2003, Babe membeli sebuah rumah yang kemudian dibagi menjadi dua unit kontrakan. Salah satu unit kontrakan itu sedang kosong dan Babe mengizinkan kami menggunakannya sebagai tempat eksperimen sablon.

Artinya, satu unit kontrakan yang bisa disewakan justru kami gunakan untuk kegiatan sablon. Hehehe ...

Akhirnya, perlengkapan sablon yang tadinya berada di halaman rumah dipindahkan ke kontrakan milik Babe.

Dari situ, kontrakan tersebut menjadi tempat kami melakukan kegiatan sablon.

Popular Posts

Pengantar Perjalanan Uprealband 2004 hingga Kini: Papa Dulu Punya Band?

BAB 1 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada

BAB 14 Pasir Digoreng, Glasswool ala Ninja, dan Perjuangan Menyulap Studio