BAB 8 Ekspedisi Cipulir dan Peluang MEIWA

 


(gambar sebagai ilustrasi)

Tahun 2004. Setelah berkali-kali mencoba proses afdruk dan mengalami kegagalan, akhirnya kami berhasil menemukan rumus sablon manual yang pas di kontrakan Babe.

Dalam proses sablon ini, Obhik yang paling serius mendalaminya bersama Dewa. Saat itu, gue sudah sering menginap di tempat kerja karena urusan pekerjaan. Gue biasanya hanya berada di Depok pada hari Sabtu dan Minggu.

Setelah Obhik dan Dewa menemukan cara yang tepat dalam proses sablon, gue mengajak Temmy, tetangga gue yang di kemudian hari ikut berperan dalam dokumentasi video Uprealband, untuk memulai produksi yang lebih serius.

Dari informasi mulut ke mulut, Pasar Cipulir di Jakarta Selatan dikenal sebagai tempat untuk mencari kaos polos dengan harga terjangkau. Gue dan Temmy pun berangkat ke sana untuk membeli bahan produksi, dengan modal yang pas-pasan.

Kami membeli satu lusin kaos polos untuk dijadikan bahan praktik sablon.

Sesampainya di workshop kontrakan Babe, kami mulai mencoba menyablon langsung di atas kaos. Kali ini, medianya bukan lagi kain perca sisa jahitan Emak. Hasil percobaan tersebut berhasil.

Kaos hitam itu kini dihiasi logo @up-real


(gambar salah satu hasil sablon pada masa-masa itu)

Awal Penggunaan Logo @up-real

Sebenarnya, logo @up-real sudah digunakan sebelum kami mencoba melakukan sablon sendiri di kontrakan Babe. Saat itu, kami pernah memesan kaos melalui jasa sablon orang lain. Bentuk logonya sudah mirip dengan yang kemudian dikenal sebagai logo @up-real, tetapi desainnya belum dipikirkan secara matang, terutama dalam hal jarak antarhuruf.

Jejak penggunaan logo pada masa sebelumnya dapat dilihat dalam video klip lagu Dari Dulu Aku Bilang. Dalam video klip tersebut, logo @up-real terlihat berwarna biru dan Eka masih terlihat bersama kami. Video tersebut menjadi salah satu petunjuk visual mengenai bentuk logo yang digunakan pada masa itu.

Penggunaan simbol @ pada logo @up-real berawal dari kebiasaan gue melihat tulisan @ Rp sekian pada nota atau kuitansi. Dari situ, gue punya pemaknaan sendiri: segala sesuatu punya nilai. Ketika sesuatu gagal atau berhasil, baik atau buruk, selalu ada pelajaran atau hikmah yang bisa diambil.

Sementara itu, bentuk dan kemiringan huruf pada tulisan up-real terinspirasi dari bentuk tulisan pada kemasan obat flu Procold. Waktu itu, Jon dan Obhik cukup sering mengalami flu dan pilek, sehingga kemasan Procold sering ada di sekitar kami.

Yang gue ambil hanya inspirasi bentuk dan kemiringan hurufnya, bukan keseluruhan desain kemasan tersebut.

Dengan demikian, logo @up-real sudah digunakan sebelum eksperimen sablon mandiri di kontrakan Babe. Eksperimen tahun 2004 menjadi bagian dari perjalanan kami menggunakan logo tersebut dalam produksi kaos sendiri, bukan awal penciptaan logonya.

(gambar logo yg kemudian akhirnya di sempurnakan termasuk warna yang dipilih)

Peluang dari MEIWA

Di lain hari, Ahenk, teman sekolah gue sekaligus teman Gerry, datang berkunjung ke markas. Saat melihat hasil sablon kaos tersebut, dia tertarik untuk membawanya ke pabrik tempatnya bekerja.

"Ban, ini kalau gue bawa ke pabrik tempat gue kerja, kayaknya laku nih."

Saat itu, Ahenk bekerja di pabrik MEIWA yang berada di Jalan Raya Bogor. Setahu gue, MEIWA itu pabrik pembuat jok, kalau nggak salah.

Gue dan Jon menyambut peluang tersebut. Kaos contoh kemudian dibawa Ahenk untuk diperlihatkan kepada rekan-rekan kerjanya di pabrik MEIWA.

Popular Posts

Pengantar Perjalanan Uprealband 2004 hingga Kini: Papa Dulu Punya Band?

BAB 1 1997–1999: Sebelum Nama Itu Ada

BAB 14 Pasir Digoreng, Glasswool ala Ninja, dan Perjuangan Menyulap Studio